Tidak banyak orang tahu Kota Teotihuacan dan tidak banyak pula cerita tentang kora ini. Selain beberapa kisah menyebutkan bahwa Teotihucan dihubung-hubungkan dengan sejarah kelam manusia tentang pembantaian besar-besaran, peperangan, atau persembahan manusia pada para dewa.
Tidak diketahui bangsa mana dan kapan Teotichuacan dibangun. Luas Teotihuacan mencapai 12,8 km2, area yang lebih besar daripada imperium kekuasaan Romawi. Bangsa Aztec menemukan kota ini pada sekitar 1500-an. Legenda yang mereka percayai mengisahkan sebuah kota yang berperadaban maju telah hilang. Kota legenda itu bernama Teotihuacan. Ketika bangsa Aztec menemukan kota ini mereka mengira telah menemukan kota yang diceritakan dalam legenda. Segera mereka menamai tempat itu Teotihuacan. Jadi, bukan bangsa Azteclah yang membangun kota ini. Bahkan, mereka tidak tahu bangsa mana yang membangun kota yang mereka temukan. Bangsa Aztec hanya memercayai bahwa nenek moyang mereka dulu yang membangun kota ini kemudia ditinggalkan.
Kota kuno itu memiliki tata kota yang menakjubkan, jaringan jalan-jalan panjang dan piramida-piramida besar berdiri di kota tersebut. Dua piramida terbesar bangsa Aztec namakan Piramida Matahari dan Piramida Bulan. Jalan utama di kota itu diberi nama jalan kematian. Diperkirakan bangsa yang mendirikan kota ini berkembang pada sekitar tahun 1 Masehi mencapai puncaknya pada abad ke-4 hingga keruntuhannya tiga abad kemudian. Kurun waktu ini adalah rentang waktu ketika peradaban Bangsa Mesir Kuno telah lama runtuh, Peradaban Yunani Klasik telah memudar, dan Kekaisaran Romawi telah lama ditaklukkan kaum barbar.
Jadi bangsa mana yang membangunnya? Itulah yang maish terselubung kabut misteri. Tidak ada peninggalan sejarah tertulis ataupun artefak-artefak yang dapat menceritakan siapa, kapan, dan bagaimana Teotihuacan dibangun. Teori-teori yang diungkapkan oleh para ahli arkeologi baru sebatas praduga-praduga. Namun, dari sejumlah penemuan satu hal yang dapat dipastikan, kota ini meyimpan sejarah kelam. Saburo Sugiyama, arkeolog yang telah lama meneliti Teotihuacan berhasil menemukan tumpukan tulang belulang manusia di dalam Piramida Bulang. Tampaknya tempat itu semacam penguburan massal yang tidak normal. Kerangka-kerangka tersebut ditemukan dalam keadaan kepala terpenggal, anggota tubuh tak lengkap, dan lengan-lengan yang terikat di punggung.
Michael Spence, ahli antropologi forensik meyakini bahwa tulang-tulang tersebut adalah manusia-manusia korban persembahan. Tujuannya menjaga kemakmuran kota, nyawa-nyawa manusia dipersembahkan untuk para dewa. Korban sesembahan diikat dan minimal dipukuli dua kali. Selain itu, berkembang pula kepercayaan bahwa penduduk kota ini sangat suka berperang, para tawanan perang yang paling sering dijadikan sesembahan dewa, dan mata uang mereka adalah darah manusia. Entah benar entah tidak, cerita yang demikianlah yang berkembang.
Bahkan, cerita keruntuhan Teotihuacan tidak kalah mengerikan. Ada yang mengatakan kota ini hancur dalam semalam karena sebuah persembahan besar-besaran pada para Dewa. Kota ini diberangsukan dengan api secara keseluruhan.
About
Hi guys...
blog ini menghimpun serakan fakta-fakta dan kisah-kisah misterius yang selalu mngundang rasa penasaran banyak orang. Apakah kamu termasuk penggemar cerita sejenis itu? Legenda-legenda misterius semisal teka-teki Segitiga Bermuda, kebenaran Benua Atlantis, keberadaan UFO, fakta kehidupan di Planet Mars, atau kondisi masa lalu Pulau Irian, misteri perputaran waktu, kutukan kematian dari Mesir jejak-jejak reinkarnasi, misteri bangunan terberat di dunia, kebenaran cerita vampir, dan lain sebagainya. Jadi, simak artikelnya dan tuntaskan rasa penasaranmu! Kalo suka please follow ya...Enjoy :)
Showing posts with label peradaban. Show all posts
Showing posts with label peradaban. Show all posts
Saturday, December 8, 2012
Wednesday, December 7, 2011
Lemuria Bangsa yang Bermigrasi
Membicarakan Sejarah masa lalu tidak semudah yang dibayangkan. Hal ini disebabkan cerita-cerita masa lalu kadang dikumpulkan hanya dari potongan-potongan cerita yang berserakan. Para ilmuwan , arkeolog, antropolog, dan peneliti berusaha merekonstruksi potongan tersebut menjadi cerita yang utuh. Namun, tetap saja cara ini menciptakan banyak versi. Karena di dalamnya pula melibatkan interpretasi yang sangat sukar menghindari subjektivitas.
Tidak dapat dipungkiri, sejarah perdaban manusia di dunia masih dilingkupi banyak misteri. Berpijak pada peninggalan-peninggalan arkeologis yang berhasil ditemukan sejauh ini, sepertinya kita tidak dapat meremehkan apa yang telah dicapai manusia tempo dahulu. Peradaban yang mereka bangun bahkan tidak menutup kemungkinan lebih maju dan lebih tinggi dibandingkan dengan yang dicapai manusia zaman sekarang.
Namun, mengapa nenek moyang kita hanya meninggalkan setumpuk artefak-artefak bisu yang membuat kita semakin bertanya-tanya apakah gerangan yang terjadi?
Diceritakan legenda turun-temurun bangsa Lemuria telah meninggalkan bumi menuju suatu planet yang berkarakter mirip bumi. Planet itu adalah Planet Erra atau Terra yang bertempat di gugus bintang Pleiades. Bangsa ini terpaksa mengungsi karena diserang oleh bangsa Athlean penghuni Kerajaan Atlantis.
Lemuria adalah peradaban kuno yang diperkirakan hidup pada periode 75000 SM-11000 SM lebih tua dari peradaban Atlantis. Pulau Ester atau Pulau Paskah ditengarai merupakan sisa peradaban Lemuria. Pulai ini mendapatkan keajaiban khusus bagi arkeolog karena di tempat ini sebuah keajaiban dipertontonkan. Pulau yang kurang lebih seluas 4000 km dikelilingi ratusan patung batu Moai yang berukuran raksasa. Ratusan patung besar itu kira-kira tingginya 33 sampai 66 kaki dan beratnya 14 sampai 80 ton.
Pulau Paskah (bahasa Polinesia: Rapa Nui, bahasa Spanyol: Isle de Pascua) adalah pulau yang terletak di selatan Samudra Pasifik. Secara administratif pulau ini termasuk wilayah Provonsi Valparaiso, Cili.
Sergio Rapu, seorang arkeolog yang meneliti Pualu Paskah menemukan arti dari nama moai, yakni "wajah hidup leluhur kami". Dia memperkirakan pembuatan patung-patung itu sebagai bentuk pemujaan kepada leluhur mereka. Wajah patung yang membelakangi lautan dan menghadap perkampungan dipercaya sebagai cara leluhur melindungi dan menjaga para penduduk pulau itu.
Suku Maori dan suku Samoa yang bertempat tinggal di pulau-pulau sekitar Pasifik memercayai bahwa dahulu kala pernah ada dataran besar di Pasifik. Penghuni daratan tersebut memiliki peradaban yang sangat maju. Namun, sebuah peperangan besar-besaran menghancurkan bangsa tersebut. Perang terjadi antara bangsa Lemuria dan bagnsa Athlean. Bangsa Atlantis keluar sebagai pemenang dan menyingkirkan bangsa Lemuria. Namun, episode berikutnya sang pemenang berikut peradabannya hancur. Bukan diserang bangsa lain, melainkan oleh kekuatan alam. Bencana besar berupa tsunami dan gempa bumi menenggelamkan dataran yang mereka tinggali.
Keberadaan bangsa Lemuria berhasil diidentifikasi oleh Augustus Le Plongeon (1826-1908), seorang peneliti dan penulis yang mengadakan penyelidikan terhdapa situs-situs purbakala peninggalan bangsa Maya di Yukatan. Setelah bekerja keras akhirnya Plongeon berhasil menerjemahkan beberapa lembar catatan kuno bangsa Maya. Hasil terjemahan tersebut menginformasikan keberadaan bangsa Lemuria. Bangsa Maya mencatat bahwa bangsa Lemuria berusia lebih tua daripada bangsa Atlantis yang dipercaya sebagai nenek moyang bangsa Maya. bangsa Lemuria dan Atlantis pernah hidup dalam periode waktu yang sama. Sebelum bangsa Atlantis menyerang Lemuria dan sebelum bencana meluluhlantakkan kedua peradaban tersebut.
Melalui pnerawangan Edgar Cayne, seorang spiritualis dari Amerika Serikat (baca: Jejak-Jejak Reinkarnasi) mengungkapkan kehidupan bangsa Lemuria dan Atlantis. Dia menceritakan keberadaan kristal generator raksasa yang dikelilingi kristal-kristal lain sebagai sumber tenaga dan penyembuhan. diceritakan bangsa Lemuria adalah manusia-manusia yang memiliki tingkat spiritual tinggi, menjunjung perdamaian, dan sangat bermoral. Berbeda dengan bangsa Atlantis yang mengandalkan kekuatan fisik dan suka berperang. Hal ini pulalah yang menyebabkan kekalahan Lemuria atas Atlantis.
Lemuria berasal dari kata "mu" atau "Mu-Devi" yang berarti "Tanah Leluhuhr/Ibu Pertiwi". Mu-Devi adalah ibu dewi Hindu Shiva. Di Pulau Paskah berhasil ditemukan beberapa lembaran berisi tulisan. Sampai saat ini tulisan tersebut yang dikenal dengan rongorongo belum dapat diterjemahkan. Guillaume de Hevesy, seorang sarjana dari Honaria berhasil menemukan persamaan karakter rongorongo dengan tulisan prasejarah India Kuno. Pada rongorongo terdapat cap dari Mohenjo-Daro. Rongorongo kemungkinan berarti damai-damai yang isinya tentang dokumen mengenai Pulau Paskah, bagaimaan pembuatan dan pendirian patung raksasa Moai serta eksistensi bangsa Lemuria sendiri.
Tidak dapat dipungkiri, sejarah perdaban manusia di dunia masih dilingkupi banyak misteri. Berpijak pada peninggalan-peninggalan arkeologis yang berhasil ditemukan sejauh ini, sepertinya kita tidak dapat meremehkan apa yang telah dicapai manusia tempo dahulu. Peradaban yang mereka bangun bahkan tidak menutup kemungkinan lebih maju dan lebih tinggi dibandingkan dengan yang dicapai manusia zaman sekarang.
Namun, mengapa nenek moyang kita hanya meninggalkan setumpuk artefak-artefak bisu yang membuat kita semakin bertanya-tanya apakah gerangan yang terjadi?
Diceritakan legenda turun-temurun bangsa Lemuria telah meninggalkan bumi menuju suatu planet yang berkarakter mirip bumi. Planet itu adalah Planet Erra atau Terra yang bertempat di gugus bintang Pleiades. Bangsa ini terpaksa mengungsi karena diserang oleh bangsa Athlean penghuni Kerajaan Atlantis.
Lemuria adalah peradaban kuno yang diperkirakan hidup pada periode 75000 SM-11000 SM lebih tua dari peradaban Atlantis. Pulau Ester atau Pulau Paskah ditengarai merupakan sisa peradaban Lemuria. Pulai ini mendapatkan keajaiban khusus bagi arkeolog karena di tempat ini sebuah keajaiban dipertontonkan. Pulau yang kurang lebih seluas 4000 km dikelilingi ratusan patung batu Moai yang berukuran raksasa. Ratusan patung besar itu kira-kira tingginya 33 sampai 66 kaki dan beratnya 14 sampai 80 ton.
Pulau Paskah (bahasa Polinesia: Rapa Nui, bahasa Spanyol: Isle de Pascua) adalah pulau yang terletak di selatan Samudra Pasifik. Secara administratif pulau ini termasuk wilayah Provonsi Valparaiso, Cili.
Sergio Rapu, seorang arkeolog yang meneliti Pualu Paskah menemukan arti dari nama moai, yakni "wajah hidup leluhur kami". Dia memperkirakan pembuatan patung-patung itu sebagai bentuk pemujaan kepada leluhur mereka. Wajah patung yang membelakangi lautan dan menghadap perkampungan dipercaya sebagai cara leluhur melindungi dan menjaga para penduduk pulau itu.
Suku Maori dan suku Samoa yang bertempat tinggal di pulau-pulau sekitar Pasifik memercayai bahwa dahulu kala pernah ada dataran besar di Pasifik. Penghuni daratan tersebut memiliki peradaban yang sangat maju. Namun, sebuah peperangan besar-besaran menghancurkan bangsa tersebut. Perang terjadi antara bangsa Lemuria dan bagnsa Athlean. Bangsa Atlantis keluar sebagai pemenang dan menyingkirkan bangsa Lemuria. Namun, episode berikutnya sang pemenang berikut peradabannya hancur. Bukan diserang bangsa lain, melainkan oleh kekuatan alam. Bencana besar berupa tsunami dan gempa bumi menenggelamkan dataran yang mereka tinggali.
Keberadaan bangsa Lemuria berhasil diidentifikasi oleh Augustus Le Plongeon (1826-1908), seorang peneliti dan penulis yang mengadakan penyelidikan terhdapa situs-situs purbakala peninggalan bangsa Maya di Yukatan. Setelah bekerja keras akhirnya Plongeon berhasil menerjemahkan beberapa lembar catatan kuno bangsa Maya. Hasil terjemahan tersebut menginformasikan keberadaan bangsa Lemuria. Bangsa Maya mencatat bahwa bangsa Lemuria berusia lebih tua daripada bangsa Atlantis yang dipercaya sebagai nenek moyang bangsa Maya. bangsa Lemuria dan Atlantis pernah hidup dalam periode waktu yang sama. Sebelum bangsa Atlantis menyerang Lemuria dan sebelum bencana meluluhlantakkan kedua peradaban tersebut.
Melalui pnerawangan Edgar Cayne, seorang spiritualis dari Amerika Serikat (baca: Jejak-Jejak Reinkarnasi) mengungkapkan kehidupan bangsa Lemuria dan Atlantis. Dia menceritakan keberadaan kristal generator raksasa yang dikelilingi kristal-kristal lain sebagai sumber tenaga dan penyembuhan. diceritakan bangsa Lemuria adalah manusia-manusia yang memiliki tingkat spiritual tinggi, menjunjung perdamaian, dan sangat bermoral. Berbeda dengan bangsa Atlantis yang mengandalkan kekuatan fisik dan suka berperang. Hal ini pulalah yang menyebabkan kekalahan Lemuria atas Atlantis.
Lemuria berasal dari kata "mu" atau "Mu-Devi" yang berarti "Tanah Leluhuhr/Ibu Pertiwi". Mu-Devi adalah ibu dewi Hindu Shiva. Di Pulau Paskah berhasil ditemukan beberapa lembaran berisi tulisan. Sampai saat ini tulisan tersebut yang dikenal dengan rongorongo belum dapat diterjemahkan. Guillaume de Hevesy, seorang sarjana dari Honaria berhasil menemukan persamaan karakter rongorongo dengan tulisan prasejarah India Kuno. Pada rongorongo terdapat cap dari Mohenjo-Daro. Rongorongo kemungkinan berarti damai-damai yang isinya tentang dokumen mengenai Pulau Paskah, bagaimaan pembuatan dan pendirian patung raksasa Moai serta eksistensi bangsa Lemuria sendiri.
Subscribe to:
Posts (Atom)


